Oleh: Syifa Aulia Zahra, XI IPA 3
Sumber energi fosil merupakan hutan prasejarah, yang menyimpan jutaan tahun energi matahari. Karena investasi bahan bakar fosil, revolusi industri mungkin terjadi. Memberikan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi yang berkelanjutan.
Perkembangan ini menyebabkan perubahan berbahaya dalam iklim kita. Kini, akibat-akibatnya sudah dapat dilihat. Saat membakar batu bara, minyak atau gas, karbondioksida dilepaskan ke atmosfer. Sampai hari ini, emisi gas terus berlanjut - CO2 meningkat secara eksponensial. Pasalnya, sejauh ini pertumbuhan ekonomi masih dikombinasikan dengan peningkatan penggunaan bahan bakar fosil. Hanya dalam 250 tahun, periode yang sangat singkat dalam sejarah bumi. Manusia telah meningkatkan jumlah karbondioksida di atmosfer sekitar 40%. Ini adalah presentase berbahaya yang mendekati level yang belum pernah terlihat di bumi selama 4 juta tahun lamanya. Konsekuensi dari peristiwa tersebut termasuk peningkatan suhu atmosfer bumi. Suhu bumi telah meningkat sejak 1750 dengan rata-rata 1°C. Jika peristiwa seperti ini berkelanjutan, kandungan karbondioksida di atmosfer dalam 100 tahun ke depan akan berlipat ganda atau mungkin tiga kali lipat. Maka suhu bumi akan meningkat 3-4°C lagi. Untuk mencegah hal ini terjadi, manusia harus menghentikan emisi karbondioksida dan gas penangkap panas lainnya. Karbondioksida terakumulasi di atmosfer, artinya semakin cepat kita menghentikan emisi karbondioksida, semakin rendah kemungkinan meningkatnya suhu bumi di masa depan. Jika kita tidak bertindak, akan ada konsekuensi yang mengerikan. Seperti perubahan area tutupan vegetasi, kenaikan permukaan laut, dan periode perubahan cuaca yang berkepanjangan. Jika perubahan iklim terus berlanjut, dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar, revolusi sosial, dan migrasi masyarakat di seluruh dunia.